Halaman

Minggu, 26 Mei 2013

Peran Rangga Warsita dan Mangku Nagara IV dalam Karya Sastra Jawa



Peran Rangga Warsita dan Mangku Nagara IV dalam Karya Sastra Jawa

Oleh :
Ahmad Arief Budiman



Judul                        : “Rangga Warsita’s School  Prose”, “Didactic Poems by Mnagku      Nagaran IV”
Pengarang                 : Pigeaud
Data Publikasi          : Literature of Java: the Pigeaud, Penerbit: Martinus Nyhoff Laiden. 1967


         Memahami suatu karya sastra tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak hal yang harus kita ketahui agar pemahaman kita terhadap karya sastra itu lebih mendalam. Salah satu hal yang dapat kita pelajari untuk memahami suatu karya sastra adalah dengan melihat sejarah dari karya sastra itu sendiri. Banyak pengetahuan yang bisa kita dapatkan dengan mempelajari sejarah suatu karya sastra, antara lain kita akan mengetahui siapa orang yang berpengaruh penting dalam perubahan suatu karya sastra dan lain sebagainya. Pada kesmpatan kali ini, topik yang akan dibahas mengenai peran seseorang terhadap suatu karya sastra.
         Pada awal abad ke Sembilan belas, di daerah Surakarta, kaum intelektual dari Belanda telah mempelajari  sastra Jawa untuk tujuan mereka sendiri. Kaum intelektual dari Belanda bahkan pada awal abad ke Sembilan belas telah membuat kamus Jawa-Belanda. Secara tidak langsung kehadiran kaum intelektual atau para sarjana dari Belanda ini telah berpengaruh besar terhadap perkembangan karya sastra khususnya di daerah Surakarta. Pada saat itu masyarakat Jawa priyayi berkembang menjadi kelas intelektual yang kebarat-baratan. Seiring perkembangan jaman, pada awal abad ke dua puluh, sekolah-sekolah yang tadinya hanya mengkhususkan pada masyarakat tertentu kemudian terbuaka untuk orang-orang dari semua golongan, hal inilah yang menyebabkan ide-ide atau pemikiran-pemikiran barat berkambang pesat pada saat itu. Ditengah derasnya pengaruh pemikiran barat terhadap perkembangan karya sastra di daerah Jawa Tengah, Rangga Warsita seorang pemuda pribumi secara mengejutkan mampu menghasil suatu karya sastra yang menarik perhatian banyak orang. Tidak seperti para pendahulunya atau kaum intelektual terdahulu yang hanya menterjemahkan karya sastra Jawa terdahulu kedalam bahasa yang mereka mengerti, Rangga Warsita menulis karya sastra dalam bentuk prosa. Pengaruh barat memang sangat kental pada saat itu, sehingga karya-karya dari Rangga Warsita secara tidak langsung mengusung pemikiran barat, namun tidak menghilangakan nilai budaya aseli masyarakat pada saat itu. Hal inilah yang menyebabkan karyanya dapat dengan mudah diterima oleh semua golongan masyarakat, termasuk golongan intelektual Belanda. Rangga Warsita telah memberikan sentuhan baru terhadap perkembangan karya sastra Jawa dengan menggabungkan unsur kebarat-baratan dengan budaya lokal, ia mampu memberikan angin segar ditengah derasnya pengaruh barat.
         Selain Rangga Warsita, Mangku Nagara IV juga orang yang berpengaruh besar terhadap perkembangan karya sastra pada abad kesembilan belas. Berbeda dengan Rangga Warsiata, Mangku Nagara pada saat itu membuat karya dalam bentuk puisi. Mangku Nagara IV pada saat itu menulis puisi tentang moralistik atau tentang kehidupann sosial. Karya-karya Mangku Nagara IV mungkin lebih mudah berkembang pesat, karena dia adalah seorang yang memilki kekuasaan di daerah Surakarta, akan tetapi karya-karyanya begitu dihargai bukan karena kekuasaan yang ia miliki, namun karena puisi-puisi yang diciptakannya begitu menarik perhatian semua golongan. Pusi-puisi Mangku Nagara pada saat itu dianggap yang paling baik diantara pusi-pusi yang ada khususnya di daerah Surakarta. Pada akhir abad kesembilan belas, beberapa orang beranggapan ada peran Rangga Warsita di dalam puisi-puisi Mangku Nagara. Karya Mangku Nagara dianggap tidak murni, namun hal itu tidak terbukti dan hanya menjadi rumor saja pada saat itu. Karya-karyanya tetap dianggap yang paling baik.
         Karya sastra telah mengalami perubahan seiring perkembangan jaman. Beberapa karya sastra ada yang mendapat pengaruh barat, namun ada juga beberapa karya sastra yang masih mempertahankan nilai aseli budaya mereka. Pengaruh barat terhadap karya sastra jawa memang sangat kental, hal ini dikarenakan pendidikan yang diperoleh tidak lepas dari campur tangan budaya Barat, bahkan hingga kini. Terlepas dari itu semua, peran Rangga Warsita dan Mangku Nagara terhadap perkembangan karya sastra Jawa tidak dapat dikesampingkan. Mereka dengan berani membuat karya sastra yang bersebrangan pada saat itu. Hal ini membuktikan kalau orang-orang pribumi masih berperan besar dalam perkembangan karya sastra.
 

  




Senin, 01 April 2013

Anak Jalanan Belajar Berbisnis

Anak Jalanan Belajar Berbisnis

“Saya cuma anak kampung, mau sampai kapan juga ya tetap saja anak kampung. Hanya bedanya sekarang sudah tidak kampungan. Hehehe”.
Itu adalah sepenggal kata yang di ucapkan seorang pengusaha souvenir kepada teman-temannya yang kagum dengan dirinya. Dia adalah Ayis Rahim, anak kelahiran Gorontalo 1988 ini, sekitar lima tahun yang lalu nekad merantau ke Ibu Kota hanya untuk mengejar sebuah pendidikan. Cita-citanya sederhana kala itu ‘hanya ingin masuk Universitas Indonesia (UI)’.
Meski berasal dari keluarga yang serba kekurangan namun tak menyurutkan semangat Ayis untuk menempuh pendidikan hingga ke bangku kuliah. Bayangkan saja, Ayahnya hanya seorang buruh dan Ibunya pekerja serabutan. Setiap hari, saat matahari belum menampakkan batang hidungnya, ia sudah harus bergegas untuk menjual kue keliling kampung, padahal saat itu usianya baru lima tahun.
Kalau tidak jualan keliling kampung maka ia tidak akan bisa sekolah. Karena uang yang ia peroleh dari hasil berjualan itu untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari dan untuk membayar uang sekolah.
Pasar menjadi rumah ke dua bagi dirinya. Karena di tempat itulah ia habiskan hampir seluruh masa kecilnya. Menjadi penjual kantong kresek adalah profesi yang digelutinya hapir enam tahun.
Beranjak remaja ia mulai meninggalkan pekerjaannya sebagai penjual kantong kresek di pasar dan beralih menjadi penjual peralatan rumah tangga. Ia juga menjual souveir seperti aneka bros dan lain sebagainya di sekolah. Saat tas sekolah anak-anka yang lain diisi dengan buku pelajaran, berbeda dengan Ayis, tas yang ia miliki dipenuhi dengan barang dagangan.
Hidup yang keras memaksa ia untuk mandiri sedari kecil. Kedua orang tuanya yang tak memiliki harta dunia berlimpah, disadarinya benar, hingga bermalas-malasan, manja, dan bersenang-senang, hampir tak ada dalam kamus hidupnya. Ia hanya berpikir bagaimana bisa mendapatkan uang hari ini nanti dan esok karena jika tak mendapatkan uang, maka sudah dapat dipastikan ia tidak akan bisa menikmati lezatnya nasi putih hari ini.
Beranjak dewasa, tepatnya sehabis lulus Sekolah Menengan Atas (SMA). Ayis memutuskan untuk hijrah ke Ibu Kota. Meski awalnya sangat ditentang oleh seluruh keluarganya karena faktor ekonomi yang sangat tidak memungkinkan, namun ia tetap bersikeras karena ia ingin masuk UI.
Hingga akhirnya Ayah dan Ibunya harus merelakan anak kesayangan mereka untuk hijrah ke Jakarta demi meraih cita-citanya.
Berbekal uang tiga juta rupiah, Ayis pun nekad pergi berkelana ke Jakarta. Padahal ia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di sana. Sesampainya di Ibu Kota, anak laki-laki ini bingung harus berbuat apa karena tak satu kerabat pun ia miliki di sini. Alhasil ia harus berjibaku lagi untuk mempertahankan hidupnya di sini. Satu tahun ia habiskan hidupnya dengan menjadi seorang penjual koran. Dari satu terminak ke terminal lain berjualan koran sudah biasa ia lakukan. Hingga ia pun akrab dengan sebutan anak jalanan atau anak gelandangan.
Sampai pada suatu ketika mimpinya untuk merai cita-cita akhirnya datang juga. Berkat semangatnya yang tinggi dan tak henti-hentinya terus belajar, ia akhirnya berhasil masuk UI.
“ini semua berkat bantuan kakak-kakak mahasiswa dari UI yang rela meluangkan waktunya untuk mengajarkan saya berlatih soal-soal ujian, hingga saya bisa masuk UI” kata pria bertubuh kurus kerontang ini pada rekan-rekan media yang tengah meliputnya pada tahun 2008. Sekarang, ia bukan lagi anak jalanan, pedangan asongan, dan anak kampung yang bisa masuk UI, tapi ia kini menjelma menjadi seorang pebisnis sukses. 
Salah seorang sahabatnya dikampusnya yang bernama Arief, menjadi saksi keberhasilannya dalam meraih kesuksesan. Karena bisnis yang ia jalankan saat ini ia rintis dari awal bersama sabahabatnya itu. Kini, dua sosok pemuda yang ramah dan murah senyum ini, menjelma menjadi salah satu pebisnis handal di Indonesia.

Pada tahun 2008, kisah anak jalanan ini sempat di muat dalam media masa ternama, berikut ini linknya. Semoga bermanfaat untuk para pembaca. Amin
http://news.liputan6.com/read/165174...u-kuliah-di-ui



Hanya satu dari sekian banyak kisah pengusaha yang sukses dan menginspirasi banyak orang. Semoga kisah salah satu sahabat ini mampu memberi semangat para anak-anak jalanan untuk meraih kesuksesan. Bahwa sukses itu milik siapa saja, termasuk anak jalanan sekali pun.
 

Jumat, 01 Februari 2013

Segores Kata Maaf

Segores Kata Maaf

Aku hanya ada yang satu ini
Semua bahkan tak punya lagi
Raga seperti nafas yang tak berarti kini
Karena nafas ini ada padamu

Maaf jika tutur melukai hati
Maaf jika nurani kadang tak sama lagi
Maaf jika aku pernah lukai hati suci itu
Maaf jika aku lalai atas kasihmu

Jika ada kata yang lebih indah dari sebuah kata maaf
Pasti sudah aku beri seutuhnya untukmu
Karena aku hanya mampu memberi itu

Maafkan atas segala kesalahanku



by: Ahmad Arief Budiman

Menginspirasi Lewat Karya Bukan Hanya Sebatas Kata.

Minggu, 27 Januari 2013

Sejarah Bahasa Jawa Ngapak

Sejarah Bahasa Jawa Ngapak

Pada dasarnya, istilah “ngapak” tidak memiliki arti yang jelas. Istilah “ngapak” diperkirakan dari Banyumas, yaitu ‘ora ngapak-ngapak’ (tidak apa-apa). Masyarakat Banyumas serta masyarakat Pesisir Utara Jawa, jika mengucapkan kata terbuka, terdengar bunyi glotal (bunyi huruf Q-red). Sehingga masyarakat Banyumas mengucapkan kata ‘ora ngapa-ngapa’ menjadi ‘ora ngapak-ngapak’. 
Oleh karena itu, beberapa kalangan banyak yang menyebutkan Bahasa Banyumasan sebagai bahasa ngapak. Alasan serupa juga dilontarkan beberapa masyarakat Jawa, khususnya masyarakat tegal.
Tahap perkembangan dari dialek Banyumasan adalah: Abad ke-9 – 13 bagian dari Bahasa Jawa Kuna.
Abad ke-13 – 16 berkembang menjadi Bahasa Jawa abad pertengahan
Abad ke-16 – 20 berkembang menjadi Bahasa Jawa baru. Abad ke-20 sampai sekarang, sebagai dialek Bahasa Jawa modern.

(sumber: Madubranta)