Halaman

Kamis, 24 Januari 2013

Bahasa Jawa Ngapak



Bahasa Jawa Ngapak

            A : “Aja kaya kuwelah... Kowen ora ngerti apa, atine nyong lara nemen.”
            B : “ Iya... Iya... Inyong ora bakal ngomong kaya kuwe maning.”
Mendengar percakapan semacam itu, kita mungkin akan langsung mengerti bahwa bahasa yang digunakan penutur tersebut adalah Bahasa Jawa Ngapak. Apa yang di maksud Bahasa Jawa Ngapak? Bagaimana sejarahnya sehingga bahasa ini di sebut Ngapa?
           Bahasa Jawa mempunyai 4 dialek dan 13 subdialek. Dialek diantaranya: Banyumas, Pesisir Timur, Pesisir Utara, Surakarta dan Jawa Timur. Sedangakn subdialek yaitu: Purwokerto, Kebumen, Pemalang, Banten Utara, Tegal, Semarang, Rembang, Surakarta, Yogyakarta, Madiun, Surabaya dan Banyuwangi. (The Langue of Java and Madure. Uhlenbeck: 1972).
            Bahasa Jawa mempunyai dialek dibedakan dari ciri-ciri tertentu. Sepintas perbedaan dilihat dari ucapan dan kosa kata. Namun, keduanya belum mewakili ciri perbedaan keseluruhan sebelum dikaitkan dengan struktur dialek. Dialek Bahasa Jawa yang terkenal adalah Banyumas, yang kemudian di kenal dengan Bahasa Ngapak.
            Bahasa Ngapak, pada dasarnya adalah dialek Bahasa Jawa yang digunakan di daerah Cilacap, Kebumen, Banjarnegara, Purbalingga, Purwokerto, Bumiayu, Slawi, Pemalang, Tegal, Brebes, dan Sekitarnya. Kaunikan dan kekhasan dialek Banyumas terletak pada logat bahasanya. Hal ini karena dialek Bahasa Jawa berhubungan erat dengan Bahasa Jawa Kuna. Dialek Bahasa Ngapak secara umum dianggap bahasa kasar serta dipetuturkan (digunakan) dengan kelas “rendah” (bahasa kaum proletar).

Jumat, 18 Januari 2013

Mungkin



Mungkin



Dia melihatku, aku yakin dia juga pasti menaru perhatian padaku atau paling tidak, dia tahulah namaku.
Yah mungkin saja begitu, ah, tidak, tidak begitu, jangan pakai kata mungki, karna aku yakin dia pasti melihatku juga.
Aku benci kata mungkin. Kalau begitu dia pasti melihatku dan menaru perhatian padaku, sama seperti aku menaru perhatian padanya. Tapi, terserah sajalah yang jelas aku mengaguminya kini. Nah begitu terasa lebih baik.
Aneh, dia tidak berkulit putih, berdada besar, berbadan jenjang, seperti hayalanku tentang wanita idaman. Mungkin bukan hanya hayalanku saja, tapi juga hayalan laki-laki normal lainnya, yang menginginkan seorang wanita sepeti itu. Berkulit putih, berbadan jenjang, berdada besar, yang selalu meraka  anggap itu buah segar.
Dia sama seperti wanita-wanita lainnya. Rambutnya sebahu, hitam, lurus dan dibiarkan terurai begitu indah.
Kulitnya seperti memancarkan cahaya yang membuat semua pria mengaguminya, walau tak seputih salju.
Tubuhnya indah meski tak berdada besar, namun cukup meyakinkan kalau ia bukan anak kecil lagi.
Senyumnya sama seperti wanita yang pernah aku lihat diberbagai tempat awalnya. Tapi semakin ku lihat senyum itu, semakin aku mengaguminya lagi, lebih dalam lagi, sehingga membuat ia begitu berbeda dari semua.
Tapi apa yang membuat wanita ini dapat pengecualian besar? Mungkin dia polos, tapi tidak juga ternyata. Dia pernah menjalin hubungan dengan dua pria dalam waktu berbeda, itu cukup meyakinkan aku kalau dia tidak polos. Meski kini dia sendiri.
Dan kini, semuanya sudah kuceritakan pada teman-temanku. Tentang dia, tentang wanita yang penuh pengecualian itu. Semua perasaan kagumku padanya. Dan ternyata mereka yakin, sangat yakin. Aku pasti bisa kali ini, bisa tak sendiri lagi, itu perkataan mereka. Kini aku memang sedang gencar-gencarnya mencari sosok wanita yang bisa menemani kesendirianku.
Teman-temanku berkata kalau wanita ini, yang aku ceritakan itu, bukan wanita sembarang.
Tapi dia ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dia begitu anggun, begitu terlihat cerah senyum di pipinya kala ia tertawa. Halus tuturnya saat menyapa, begitu lembut warna kulitnya yang alami.
Tak seperti wanita lain yang harus menghabiskan berjuta-juta hanya demi penampilan. Itulah ungkapan mereka terhadap wanitaku itu, dia salah seorang wanita terbaik di bumi ini dan begitu banyak yang menginginkannya.


Aku tak mengerti ini semua, dan tak akan pernah mengerti. Selalu. Yang aku mengerti, dulu aku hanya bisa mengagumi saja, namun kali ini aku dapat menggenggam tangannya lebih dekat, lebih mesra.
Yah aku kini tak sendiri. Wanita itu sudah jadi pendampingku saat ini. Ia jadi kekasihku sekarang. Aku kini tak sendiri.
Kini aku jauh dari kebiasaan mencari wanita, jauh dari hura-hura, jauh dari pesta, jauh dari film dewasa, jauh dari itu semua karna kini ada Permata. Aku mulai menjauh dari kenakalan remaja sejak kenal Permata.
Dia Permata, namanya Permata, wanita yang dulu hanya bisa aku kagumi itu. Dan aku mulai benar-benar mengaguminya lagi ketika lebih dekat dengannya, sangat dekat.
Dia begitu sempurna di mataku, sangat sempurna, tanpa pengecualian sedikitpun. Sering aku berpikir kalau yang patut mendapat pengecualian adalah aku. Siapa aku? Hanya pria bertubuh kurus dengan rambut yang juga tak lurus.
Coba bayangkan, kulitku seperti sawo yang hampir busuk, rambutku bergelombang, badanku kurus kering, tapi aku bisa dapatkan wanita secantik dia. Sungguh anugrah yang tak bisa dibeli ini semua.
Aku bahkan tak punya sedan mengkilap atau jaguar roda empat yang bisa bikin semua wanita terpikat. Tapi aku tak perduli itu semua, yang pasti aku punya Permata saat ini, Permata yang indah, sangat indah dimataku.
Dia begitu berbeda dalam semua, berbeda dalam irama, berbeda dalam suara, keculai dalam cinta. Tak pernah ada alasan pasti mengundang emosi  untuk mencaci, tak terngiang sedikitpun untuk pergi, apalagi harus menghiyanati. Karna dia begitu dewasa jauh melebihi usianya yang belum juga delapan belas tahun.
Ia begitu mengerti isi hatiku, setidaknya itu yang aku pahami sampai kini. Kesabarannya, pengertiannya, perkataannya, keceriannya, semua tentangnya begitu sempurna, makin mengaguminya dan aku makin ingin terus besama selamanya.


Lagi-lagi, untuk kesekian kalinya aku tetap tak mengerti dengan rencana-Nya. Selalu tidak akan pernah tahu. Yang aku tahu adalah, hampir  dua tahun kebersamaan yang begitu indah itu, yang aku pun tak cukup dan masih ingin terus mengaguminya. Lebih ingin mengaguminnya lagi dalam semua.
Akan tetapi, kini ia bilang tak akan lagi, tak dapat lagi, tak bisa bersama lagi, tanpa alasan pasti yang sulit dimengerti.
“Apa aku tak seperti yang kau mau? Apa aku tidak sempurna?”
Itu yang pertama aku tanyakan padanya.
“Tak terlintas sedikpun tentang itu”
Jawabnya denga lembut. Kemudian ia melanjutkan dengan bahasa yang begitu indah. Sungguh luar biasa wanita ini. Bahkan dalam tutur katapun tetap ia jaga dengan penuh irama. Ia lanjutkan kata-katanya tentang perpisahan kami.
“Kau begitu sempurna, kau tulus menyayangiku, tidak pernah kubayangkan kesetiaan yang kau punya melebihi meraka, melebihi segala yang kurasa tentang pria. Kedewasaanmu tak pernah kutemukan pasti pada orang lain, laki-laki lain yang pernah kukenal. Hanya kau yang tidak pernah lelah dengan laku ku, aku pun tak henti mengagumimu, tidak cukup, tidak akan pernah cukup. Tapi aku tetap tak bisa, tetap tak bisa meski sudah kucoba”
“Lantas mengapa?”
Tanyaku lagi padanya. Ini perkataanku yang ke dua pada Permata. Lalu, dia mengatakannya lagi dengan nada berbeda kali ini
“Karna kau begitu sempurna dimataku, yah kau begitu sempurna dimataku, kau begitu sempurna dimataku.”
            Ia mengulanginya, mengulangi kata-kata itu, kata-kata yang tidak pernah kuharapkan dari dirinya. Aku coba merayu dengan kenangan masa lalu, aku mulai bercerita tentang masa indah, berharap ia mengubah dan membuka hatinya lagi untuk ku kali ini
“Kau wanita pertama yang mengubah hidupku, kau yang pertama jatuh di pelukan ku ketika kita sudah mulai lelah bercengkrama, kau yang pertama mengecup keningku dengan lembut, membelaiku dengan indah,  mengecup lagi bibirku dengan cinta, memeluk ku dengan bahagia, kau….”
“Yah begitupun aku”
Ia memotong pembicaraanku dengan ramah. Kini, aku yang diam dan dilanjutkanlah perkataanya.
“Aku pun begitu, kau yang pertama untuk semua itu. Tapi aku tetap tidak bisa, kita harus berpisah, kini kau harus belajar membuangku, sama seperti aku belajar membuangmu”
Ungkapan yang tidak pernah terlintas dalam benakku, namun kini dia katakan dengan lembut walau terasa tetap menyakitkan.
Tapi, masih saja aku coba tetap merayu. Percakapan kami berlanjut lagi sekarang. Dan semakin memanas.
“Aku selalu yakin atas semua, juga yakin akan dirimu yang akan bersamaku hingga nanti aku mampu dan cukup untuk merangkulmu lebih erat lagi, dalam keresmian. Masih jauh memang, tapi aku yakin dengan itu semua, kau cinta partamaku dan aku yakin kau yang terakhir bagiku”
“Itu yang kau lupakan”
Kali ini dia menjawab dengan nada yang sedikit tinggi.
“Kau selalu menganggap itu yakin, tapi tidak denganku, semua bagiku mungkin”
“Jadi semua ini palsu?”
Aku memotong kata-katanya dengan juga bernada tinggi
“Tidak. Karna aku berusaha untuk jujur pada ini semua.”
Jawabnya dengan mesra. Lalu aku menundukan kepala dan berkata
“Jadi, apa kau tidak pernah mencintaiku?”
“Mungkin. Jadi lupakan aku”
Kata itu, kata yang aku benci ternyata selama ini ada dibenaknya dan tak pernah aku mengetahuinya karna yang aku tahu dan yang aku mau adalah pasti.
Seketika itu juga ia pergi. Pergi meninggalkan aku, meninggalkan segala kekagumanku tentangnya. Pergi tanpa pernah menoleh kebelakang, kini ia benar-benar ingin menghapus segalanya. Kini aku akan belajar membencimu.
                                                           
           
“Sepahit itukah masa lalumu, sehingga sampai kini kau masih membencinya?”
Sahabatku bertanya sambil menepuk pundakku, berusaha untuk menyemangatiku yang mulai lelah bercerita panjang tentang kekaguman yang aku benci itu.
Aku bercerita panjang lebar dengan temanku karena sampai saat ini ingatan tentang Permata masih ada di benak ini.
Aku berharap dengan aku curahkan isi hati ini, setidaknya sedikit kesedihan akan luka yang memanganga dulu terobati. Lalu, aku menjawab perkataanya itu dengan tegas, menjawab perkataan temanku yang sedari tadi asik mendengar ceritaku ini.
“Yah benar, aku membencinya, lebih tepatnya aku membenci kata itu, kata yang tak mau aku dengar, dan tak akan pernah aku ucapkan.”
“Lantas, bukankah kau sudah punya penggantinya kan kini? Wanita yang begitu mengagumimu dalam semua. Ia juga wanita sempurna yang selalu jadi rebutan para pria, kau beruntung teman, sangat beruntung. Dia tidak kalah dari masa lalumu itu yang entah kini mengingatmu lagi atau tidak ketika bertemu di persimpangan jalan.”
Dia melontarkan pendapatnya dengan berani dan yakin kali ini
“Yah benar aku sudah punya penggantinya kini”
Jawab ku singkat. Kemudian dia menatapku tajam dan berkata
“Tapi sepertinya kau tidak sebahagia dulu? Apa kau tak pernah mencintainya?”
“Mungkin.”





Diangkat dari sepenggal kisah dalam novel yang berjudul "Anak Isimu"

Minggu, 13 Januari 2013

ALMAMATER PENUMPAS TEROR



ALMAMATER PENUMPAS TEROR

Hanya menempuh separuh jalan bukan berarti salah jalan. Ketika angan terbuka dan coba membayangkan tentang hal itu, entah itu ungkapan, pertanyaan, pernyataan, atau hanya goresan tangan. Semua tak akan perduli pasti, apalagi coba menggalinya lebih dalam lagi tentang semua ini. Terlalu jauh memang angan berkelana mengajak kita, jika coba mengungkapkan hal itu, atau tak pengat asa akan mendua manakala kita memendamnya. Tak menarik mungkin jika terus berkutat dengan itu semua, lebih baik berpikir yang sudah tersedia  dari pada sibuk mengungkap kata. Namun semakin kita coba menjauh dari itu semua semakin “perkasalah” para “penguasa” kita. Kita mungkin tak bersenjata, tapi bukan berarti kita sebagai mahasiswa tidak bisa berbuat apa-apa karna kita punya goresan tinta yang lebih berbahaya dari tembakan membabi buta dan gas air mata yang sering digunakan “penjaja negeri” untuk membela diri ketika terbukti merampas “harga diri” bangsa dan menelan rupiah namun tak diadili.
Tak ada pintu masih membuka, tapi mungkin masih ada seliang luka yang menganga dan belum diberi nama, “mereka” mungkin lupa atau sengaja tak berbuat apa-apa, menutup sebelah mata seperti tak ada derita ketika “mereka” berkuasa. Hanya menikmati harta, tahta, dan kuasa seperti seorang raja. “Mereka” juga pasti menempuh jalan panjang untuk mendapat kuasa negeri, mulai dari janji hingga mengucap ikrar pasti, setelah itu resmi berkuasa di negeri ini. Semua orang tentu saja menghargai para “penguasa” itu, menghormati kedudukannya, mendengar tutur katanya ketika ia berbicara. Sebagai rakyat jelata kita hanya bisa menitipkan masa depan bangsa ditangan mereka, mulai dari cita, karya, hingga jiwa, semua ada di pangkuan mereka. Akan tetapi “raja” itu kini menghilang atau sengaja menghilang. Mendusta pada sumpah dan lebih teragis lagi merampas semua yang ada. Entah harus bersedih atau berduka menyaksikan ini semua. Rakyat tak lagi percaya pada penguasa, hukum tak lagi berdaya manakala rupiah berbicara. Lantas apakah kita yang beralmamater dan berpendidikan tinggi (mungkin), hanya diam melihat ketidak adilan ini? Bukan waktunya lagi berbicara cinta, merencanakan pesta dan hura-hura, tapi rangkul semua “keluarga” kita yaitu mahasiswa untuk bersatu, berjuang dengan apa saja yang mereka bisa, dengan satu tujuana pasti, menumpas “pencuri berdasi” hingga tak terdengar lagi kata korupsi.
Jari-jariku luka-berdarah, juga telapak tanganku, begitu tajamyang ingin ku genggam, sedang yang remeh terlepas sudah. Entah dengan apa ku tuliskan esok, sedang sesaat serambi terasa kosong, mungkin aku harus berdiri kini, berdiri bukan dari belakang, tapi berperan di depan, mengangkat kepala, membuka mata. Tidak perlu berperang dengan senjata tajam, dengan kepalkan tangan dan turun ke jalan kita juga bisa menyelamatkan bangsa. Tapi bukan berarti kepalan tangan dan turun ke jalan satu-satunya cara menyelamatkan bangsa atas “penguasa” yang tak berjiwa dan tak ada rasa iba. Sebagai generasi muda yang terdidik atau yang dikenal dengan mahasiswa, pastinya punya berbagai cara menumpas kemunafikan, tentunya dengan cara mereka masing-masing. Seperti membuktikan adanya pencuri dengan meneliti, berjuang berani dengan argumen-argumen rasional dalam diskusi, dan masih banyak upaya-upaya yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan negeri dari teror “tikus-tikus berdasi” yang tak punya harga diri. Seperti biasa kita memilih diam menyerahkan perjalanan kepada sunyi, kita percaya saja ia lebih paham bagaimana mengurai jarak dalam sejumlah kelokan seraya membunuh kebimbangan yang menghadang, lalu tetap diam walau ada kebisingan yang garang. Apakah seperti itu tingkah kita saat ini? Apakah hanya itu yang kita mampu? Hanya seperti itu jiwa terhormat mahasiswa itu kini? Padahal kita bosan setiap hari mendengar “pencuri-pencuri” asik berbicara dengan gagah berani. Tentu akan sangat menggelikan sekali hanya diam, menikmati dengan secangkir kopi dan sepong roti, sementara saudara-saudara yang lain meringis dalam sepi. Sama saja tak punya jati diri jika kita sebagai generasi muda masih tetep seperti ini. Untuk apa memiliki alamamater jika tetap seperti ini, tak ubahnya “anak mami” yang hanya bisa iri jika tak diberi roti. Bukan seperti itu yang kita mau, tapi berdiri tegak seperti karang yang diharapkan. Maka mulai kini sadarlah, kita penerus mereka para “raja”,jangan sampai kita yang di hina, ketika menjadi pemimpin bangsa, padahal dahulu gigih menghapus dusta.
Bersandarlah padaku, pada kulit yang belajar darimu bagaimana cara menyentuh dan meredam ombak-ombak kecil yang menghempas dinding-dinding jantung. Jika merasa lelah istirahatlah sejenak, teguk air hangat setelah itu teruskan perjuanganmu sampai tak terbatas jarak. Entah sampai kapan ini semua akan berakhir, lelah memang, namun jangan sesekali menutup mata dan mengunci telinga, karna teror ada di mana-mana. Cobalah belajar dari kesalahan agar tak terjerumus pada lubang yang sama, berkaca pada sejarah masa lampau, sejenak tengok pula lebih kebelakang lagi, coba ingat dengan cermat, negeri ini saat itu “mengerikan”, disegani berbagai bangsa seluruh dunia, mampu mengatasi keterpurukan. Melahirkan manusia-manusia berkasta ksatria. Tak ada pencuri harga diri bangsa, semua bersama-sama membangun negeri dengan berangkulan tangan. Tapi itu masa lalu, masa lalu yang tak mungkin kembali, meski beribu kali mencaci masa itu tidak akan pernah kembali. Yang patut kita renungkan, apakah kita bisa kembali menata semua yang sudah ada hingga kita tak terbelaka? Kini bangsa selalu di rundung duka, walau sesekali coba menutup mata, namun percuma, tarikan jiwa begitu sempurna dan terus berteriak bangkit intelektual muda “peran mahasiswa dalam menutaskan kasus korupsi di Indonesia” belum ada apa-apanya menempuh separuh perjalanan saja tiada. Kalau sudah seperti ini kita harus berbuat apa? Mungkin itu pertanyaan yang harus di tanamkan dan di tumbuhkan dalam diri para mahasiswa, kita harus berbuat apa menumpas “serdadu berdasi” dan “berkantung besi” itu? Tak perlu mencari jawabannya memang, karna semua terdapat dalam diri kita para mahasiswa. Karna tiap hela nafas yang keluar dari liang  jiwa intelektual muda adalah berbau perjuanga harusnya. Begitu indah terasa manakala jiwa bersahaja dengan kita, berbaur dalam semua, dan dengan satu tujuan pasti menyelamatkan negeri ini. Tapi menyelamatkan negeri ini dari apa? Berulang kali meminta pertolongan namun tak mengerti apa pokok masalahnya. Lihat di sekeliling, tengok juga ke samping. Begitu banyak yang perlu di selamatkan. Beribu tangan meminta pertolongan. Lalu harus bagaimana? Masih bertahan atau malah mulai bosan dengan ini semua? Bahkan memilihpun kita tak di ijinkan, karna memang kita tak bisa memilih. Tapi ternyata semua mereka itu “pencuri”, ternyata semua tangan yang meminta pertolongan itupun tak seluruhnya suci. Kini jelas sudah tujuan utama mahasiswa atau kaum intelektual muda, yaitu menumpas apa yang di rampas, memerangi para pencuri, mengadili jika terbukti, bukan main hakim sendiri.
Sudah jelas bukankah kini, jadi tak perlu ada tanya lagi, ubah tanya itu denga bukti, tunjukkan pada mereka kita  berjuang tidak sendiri namun bersama atas nama bumi demi negeri. Runtuhkan “dasi-dasi” yang tak pantas bediri itu. Keloknya jarang di tempuh sang biasa, jurangnya melebihi batas umpama, ujungnya tak terisi oleh mata. Jangan mundur karna kata juga luar biasa, sama seperti bisa yang mampu membunuh seketika, maka tersenyumlah, ajak dia dan mereka berjuang bersama-sama dalam apa saja demi menumpas dusta dan menghapus air mata. Tak dapat sepeserpun memperjuangkan kebenaran memang, justru lelah yang malah terasa, tapi itulah tujuan kita sebagai mahasiswa, selain bergulat dengan buku setiap hari, berkutat pada tugas yang membosankan, namun isu-isu atau tepatnya fenomena yang ada berdasarkan fakta juga harus kita ungkap. Mulai dari yang terkendali, hingga “pencuri negeri” sekalipun harus kita tangani agar kita menjadi pemberani. Bukan berarti mahasiswa adalah dewa, yang mampu menghapus malapetaka, namun mahasiswa hanya berperan ganda, sebagai pencari cita dan juga sebagai jiwa muda yang perduli pada masa depan negeri, karna bukan rahasia lagi menyaksikan hukum di negeri ini berpihak sebelah hati, yang punya rupiah tertinggilah yang menguasai negeri tanpa tersentuh hukum dan tak perduli jeritan hati nurani. Jika seperti itu adanya, lalu siapa yang akan berjuang, mau jadi apa bangsa ini jika dikuasai pencuri.
Perih terasa menyaksikan negeri ini terus-menerus di gerogoti kurcaci-kurcaci tengil yang berkuasa. Mereka selalu menganggap berhak atas segala laksana raja yang tak mempan senjata. Gejolak-gejolak besar berkecamuk di tubuh bangsa ini, maulai dari kasus BLBI hingga kasus mega Bank Century. Yang semua itu lagi-lagi ulah “tikus-tikus berdasi” dan “berkantung besi”. Belum terselesaikan masalah century yang berkepanjangan, muncul lagi hal yang menggelikan, kemewahan di balik jeruji besi. Untuk kesekian kalinya terbuktilah kalau kini pencuri dan perampas martabat bangsa, yang berseragam, harum, rapi, dan wangi namun tak punya harga diri itulah yang memegang kendali. Begitu naïf jika tetap diam, duduk manis dan menyimak saja apa yang terjadi, padahal jelas terbukti korupsi kini mengakar dalam tubuh negeri. Jangan mau jadi pecundang seperti para “penjaja” itu, hadapi saja “pencuri-pencuri” itu dan yakinlah kita mahasiswa tak sendiri. Maka cobalah sedikit demi sedikit kurangi luka negeri ini. Jangan meringis apalagi pesimis karna kita masih seumur jagung, belum paham arti akan nikmat dunia, jangan menunduk karna mahasiswa hanya sebongkah daging yang tak ada kuasa, janga pendam itu semua, karna itu tak lebih sebuah dusta agar kita tak berdaya, lalu “penjaja” itu bahagia merusak semua. Intelektual muda memang belum separuh abad, intelektual muda juga memang tak berkuasa, tapi ingat, penghapusan dusta pada masa dahulu, keruntuhan orde lama, hingga penghapusan orde baru. Semua perubahan negeri diawali dengan bersama oleh para mahasiswa. Lalu masihkah kita berpura-pura mati ketika ada korupsi? Jawabnya ada pada diri kita sendiri, ingin tetap begini, menanti dan ikut menggerogoti atau harus berdiri walau hanya seorang diri untuk menyelamatkan negeri demi ibu pertiwi. Begitulah tangamu menyamar waktu, melambai sepenuh sungguh, serupa kapak sunyi seerkor burung yang sendiri, merambat tapi tak menghampiri, hanya seketika menggoda lalu pergi. Akan tetapi waktu tak mau menunggu, menanti perubahan zaman juga tak bisa hanya diam dan berpangku tangan, butuh sesuatu yang istimewa untuk itu semua. Jangan kira “pencuri” itu akan diam melihat langkah-langkah mahasiswa. Mereka lebih jeli dari pada mafia, mereka bertindak dengan apa saja agar tetap bisa berkuasa. Puluhan lembar rupiah akan mereka hamburkan untuk merayu kita agar berhenti menumpas korupsi, mari bernyanyi anggap saja tak ada yang terjadi. Itu yang mereka ingini. Bukan perkara mudah memang jika sudah begini, karna rayuan dan bujukan raja, sama seperti mendapat kuasa. Namun inilah saatnya pertaruhan jiwa bergulat. Kepalan tangan di ujung jalan, penelitian dan argumentasi, akankah menjadi tidak berarti manakala “raja” berjanji memberi separuh negeri, lalu tutup kasus korupsi, atau sebaliknya kita akan lebih gagah berani dan teteap perduli, karna semua yang kita lakukan tulus demi tumpah darah ini.
Ada banyak cara menyadarkan manusia, khususnya bangsa Indonesia untuk mengerti akan bahaya pencuri negeri yang tak terhakimi. Cara apa saja, namun tetap dalam jalur yang ada. Peran mahasiswa juga harus kita sadari sangat berarti dalam memberantas korupsi. Dalam hal ini mahasiswa tidak dituntut untuk setiap saat berkelahi jika melihat kemunafikan negeri, namun peran intelektual muda dalam menebas kasus korupsi diantaranya bisa dengan berkarya dan mencipta. Hal apa saja yang dapat membuka hati dan menyadarkan negeri. Salah satunya adalah dengan mencipta kata sedalam luka yang ada, hingga semua sadar kalau intelaktual muda tak cuma bisa baca, pesta, dan cinta saja, namun juga bisa berkata kalau “almamater penumpas teror”, dengan almamater juga bisa membalut luka dan melumat habis “tikus-tikus” berdasi. Jadi meski suaramu tak lagi beku di palung laut, tapi kami masih menagkap sunyi di bibirmu, teruslah berjuang sampai nanti. Hingga bangsa ini kembali berdiri, namun tanpa korupsi.